Oleh :Compos

Plagiat atau menjiplak hasil karya orang lain tanpa izin merupakan salah satu point yang paling di “haramkan” dalam etika tulis-menulis. Dalam dunia tulis-menulis seseorang yang tertangkap basah melakukan hal tersebut biasanya akan sanksi berupa pemecatan atau pencekalan, jika plagiat ini terjadi dalam lingkup departemen pendidikan seperti sekolah; universitas dan beberapa lembaga pendidikan lainnya. Sedangkan jika aksi plagiat ini terjadi dalam lingkup bisnis maka sanksi yang akan berbicara adalah undang-undang tentang hak cipta yang dilindungi langsung oleh pemerintah, biasanya berupa denda atau kurungan penjara.

Belakangan ini kasus-kasus tentang plagiat mulai sering bermunculan. Bahkan kasus ini kini telah menjadi topik yang paling hangat dibicarakan di dalam dunia pendidikan kita. Terutama yang kini sering terjadi adalah di tingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Di tingkat perguruan tinggi kasus ini pertama kali muncul ketika salah seorang dosen berpangkat doktor tertangkap tangan “mem-plagiat-i” laporan disertasi salah satu rekannya di salah satu perguruan tinggi negeri di indonesia. Kejadian tercela tersebut terungkap setelah ada seorang mahasiswa yang sedang mencari literatur di perpustakaan tanpa sengaja menemukan laporan disertasi 2 doktor yang sama persis isinya mulai dari awal hingga akhir. Kemudian karena bingung dan heran maka mahasiswa tersebut melaporkannya penemuannya itu pada pihak universitas, dan setelah diselidiki ternyata benar adanya telah ada tindakan plagiat yang dilakukan oleh salah seorang dosen di perguruan tinggi tersebut. Setelah melalui beberapa proses yang panjang dan dengan melihat berbagai pertimbangan maka kemudian dosen tersebut dikena sanksi berupa pencopotan gelar dan pelarangan mengajar selama batas waktu yang tidak ditentukan. Selain kasus tersebut sebenarnya masih ada lagi kasus-kasus lain yang dilakukan oleh beberapa pelaku pendidikan yang kurang bertanggungjawab dan tidak mempunyai etika moral sama sekali. Yang giat melakukan beberapa hal curang untuk mendapat jabatan; uang dan beberapa kenikmatan sesaat lainnya. Dan yang paling memprihatinkan lagi kini yang melakukan pelanggaran tersebut adalah dari pihak mahasiswa. Calon-calon generasi penerus bangsa itu kini sepertinya telah mulai berani bermain-main dengan api. pemuda-pemuda pewaris tongkat estafet negeri itu, kini sepertinya telah “tertular penyakit haram (plagiat)” dari “gurunya”.

Dan baru-baru ini kasus tersebut terungkap ke permukaan. Mahasiswa yang sedang dalam penggarapan tugas akhir tertangkap basah melakukan plagiatisasi terhadap hasil laporan temannya. Mahasiswa itu kemudian terkena diskualifikasi dan diwajibkan mengulang penelitiannya dari awal. “Sungguh ironis sekali memang nasib mahasiswa ini”, seharusnya sudah bisa ujian tapi ternyata disuruh mengulang dari awal. Sungguh hukuman yang sangat menyakitkan mengingat dalam satu penelitian yang lampau ia telah mengorbankan waktu dan materi yang tidak sedikit, namun hanya karena satu kesalahan itu saja ia telah harus mengulang penelitian dari awal. Namun memang inilah yang harus kita tegakkan dengan tegas, karena jika hal tersebut tidak dilakukan maka masalah-masalah yang lebih rumit dari ini pasti akan kembali menghadang arah dan gerak kita dalam upaya meningkatkan pendidikan masyarakat indonesia seutuhnya.

Maraknya plagiatisasi di dunia pendidikan kita sekarang ini sebenarnya tidaklah terduga-duga kemunculannya. Namun jika kita mau cermati bersama, sebenarnya yang menyebabkan kebiasaan buruk ini semakin membudaya adalah rendahnya pengetahuan kita tentang pemahaman etika dan nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan. Sikap tidak jujur dan menipu diri sendiri serta orang lain merupakan salah satu contoh riil bahwa kita tidak benar-benar memahami etika dan nilai-nilai moral itu sendiri. Jadi benar adanya jika suatu kata bijak mengatakan bahwa “Akan hancur suatu peradaban jika manusia-manusia di dalamnya telah tidak lagi mengenal etika dan nilai-nilai moral”. Dan sebagai generasi penerus yang masih mengenal etika dan nilai-nilai moral maka sudah seharusnya kita mampu “menghabisi” penyakit-penyakit plagiatisasi ini, dengan cara memahami dan mengajarkan serta menerapkan etika dan nilai-nilai moral dalam lingkungan dunia pendidikan kita.